HIV/AIDS Masuk Kurikulum Sekolah di Biak

Jurnal Nasional, 22 Feb 2010 SEMAKIN tingginya angka usia produktif sekolah yang terkena HIV/AIDS di Kabupaten Biak Numfor, Papua, membuat para guru turut bertanggung jawab atas fenomena ini. Guru dilibatkan dalam sosialisasi HIV/AIDS untuk membantu program pencegahan HIV/AIDS lewat pembelajaran. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Biak Numfor, Hengky J Rumkabu, di Biak Minggu (21/2). "Peran para guru dalam berbagai tingkatan ini untuk membantu pemerintah menyosialisasi pencegahan penyakit HIV/AIDS dan yang dilakukan ini sangat efektif," kata Hengky. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir Desember 2009 penderita HIV positif di Biak Numfor mencapai 458 orang. Hal itu membuat daerah ini menduduki urutan ketiga terbanyak pengidap HIV di Provinsi Papua . Pelaksanaan sosialisasi yang melibatkan para guru ini sudah dimulai sejak pekan lalu. Sebelumnya ratusan guru SLTP dan SLTA telah dibekali dengan pendidikan sosialisasi dan pelatihan kurikulum mengenai penyakit menular HIV/AIDS. Program ini dilaksanakan atas bantuan dari Unicef dan pemerintah daerah. Pencegahan virus HIV juga masuk ke dalam kurikulum sekolah yaitu pelajaran tertentu seperti biologi, pendidikan jasmani dan kesehatan, agama serta pendidikan kewarganegaraan. Adanya kurikulum pencegahan HIV ini, kata Rumkabu adalah upaya membekali anak didik memiliki pengetahuan mengenai HIV/AIDS agar mereka tidak terjerumus akibat ketidaktahuan mereka, serta melatih anak didik untuk tidak mendiskriminasi atau memberikan stigma negatif untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). "Untuk sementara pemberlakuan kurikulum pencegahan HIV/AIDS ini baru pertama kali dilakukan di Biak. Namun jika program ini berhasil, maka akan diusulkan untuk diberlakukan di seluruh Papua," kata Rumkabu. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, Sefnat Korwa menyatakan fenomena HIV/AIDS memprihatinkan semua pihak. Berdasarkan kelompok penderita usia produktif sekolah masih cukup tinggi terutama usia remaja 15-20 tahun. "Angka ini memang sangat memprihatinkan karena sebelum terkena AIDS, penderita terkena HIV positif dengan rentang masa 6-10 tahun. Ini berarti remaja yang duduk dibangku SMP sudah berisiko besar terkena virus yang sampai sekarang belum ada obatnya," kata Korwa. Korwa menyatakan Dinas Kesehatan tak boleh merahasiakan data HIV sebab sudah banyak terbukti yang sering terjadi ODHA yaitu usia belasan tahun dan beberapa di antaranya telah meninggal dunia. "Awalnya adalah ketidaktahuan mereka atas akibat serta dampak dari apa yang diperbuatnya dapat mengubah masa depan mereka," ucapnya. Seks Bebas Sebanyak 4000 lebih kasus HIV/AIDS di Provinsi Papua terjadi karena perilaku seks bebas. Penyakit ini umumnya terjadi pada usia 14-39 tahun. Manager Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) Jayapura, Raflus Dorangi, di Jayapura, Minggu, mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, tren peningkatan kasus HIV/AIDS di Papua rata-rata dikarenakan seks bebas, diantaranya heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Dia mengatakan, hingga kini tren kasus HIV/AIDS akibat seks bebas meningkat, bahkan jumlahnya mencapai empat ribu lebih, dan sekitar ratusan orang di antaranya meninggal dunia. Menurut Raflus, kasus HIV/AIDS di Papua cenderung naik, ini dikarenakan kurangnya pemahaman akan bahaya mematikan tersebut dan keimanan seseorang. Menurut ia, sosialisasi di masyarakat dan sekolah-sekolah dasar hingga SLTA sangat penting, mengingat pengidap HIV/AIDS paling tinggi adalah masyarakat yang berusia 14- 39 tahun. "Dengan melihat kencenderungan penyakit berbahaya itu, YPKM dalam segala keterbatasan hanya ingin kalangan pemuda yang memiliki segudang cita-cita dan impian tidak terjerumus dalam lembah hitam," kata Raflus seperti dikutipAntara. Menurut ia, upaya yang harus segera dilakukan adalah segera merangkul generasi muda dan memberi pemahaman lebih tentang bahaya dari penyakit mematikan ini. "Kita harus satukan tekat dan bergandengan tangan dalam rangka memerangi penyebaran HIV/AIDS di Papua," katanya.Opin Tanati

BERITA LAINNYA
  • MedanBisnis - Medan. Tingginya wanita Pekerja seksual (WPS) di Kota Medan yang bisa terinfeksi virus HIV/AIDS, membuat Lembaga Swadaya Masyarakat…
  • Penanganan HIV dan AIDS harus disinergikan de-ngan berbagai pihak termasuk masyarakat, agar penularan HIV bisa ditekan.   Silahkan mendownload Laporan…