DINKES Prioritaskan Penanganan Penyakit Menular

Antara, 3 Juni 2010 Bekasi, 3/6 (ANTARA) - Aparat Dinas Kesehatan Kota Bekasi memprioritaskan penanganan penyakit menular seperti demam berdarah dengue, tuberculosis, HIV/AIDS dan filariasis yang mudah ditularkan kepada orang lain serta menjadi perhatian dunia terkait dengan tujuan pembangunan milenium. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi dr Retni Yonti di Bekasi, Kamis mengatakan, lembaga dunia seperti "Global Fund" bahkan memberikan bantuan dana dalam melakukan pendataan, temuan kasus serta pengobatan bagi penderita HIV/AIDS dan tuberculosis (TBC). "Sebagai kawasan yang terletak berdekatan dengan ibukota negara, pemerintah kota (Pemkot) telah mengupayakan bisa menekan seminimal mungkin penyakit-penyakit yang bisa ditularkan dari manusia ke manusia ataupun dari hewan ke manusia," katanya. Ia mengatakan, maraknya penyakit menular di suatu daerah bisa berdampak pada pertumbuhan pariwisata serta efek ganda lainnya seperti enggannya orang berinvestasi. Bantuan yang diberikan oleh lembaga seperti "Global Fund" tersebut, katanya, lebih sebagai upaya menekan penularan penyakit dari orang ke orang lintas negara. "Kasus-kasus penyakit tersebut di Kota Bekasi cukup besar penderitanya dan terus meningkat hingga diperlukan upaya penanganannya agar tidak ditularkan ke orang lain," kata dokter lulusan Universitas Andalas Padang itu. Menurut dia, kegiatan yang dilakukan dalam penangangan penyakit tersebut sudah diatur term of reference (TOR)-nya. Dana dicairkan tiap tiga bulan sementara biaya setiap unit kegiatan sudah ditentukan lembaga tersebut. "Besar dananya saya tidak tahu persis, karena dana itu akan diturunkan tiap triwulan dan besarnya berbeda-beda tergantung kegiatan yang dilaksanakan. Aparat Dinkes tinggal melaksanakan kegiatan saja," katanya. Untuk kasus TBC dan HIV/AIDS, kata dia, obat-obatan di Kota Bekasi didatangkan dari pusat yang selanjutnya didistribusikan ke Puskesmas di wilayah tersebut. Retni menyatakan, penderita TBC kebanyakan warga dari golongan ekonomi lemah. Mereka kurang mendapat makanan bergizi hingga ketika ada virus penyakit tersebut dalam tubuh menjadi berkembang biak. Di banyak kasus penderita TBC, katanya, penderita baru dibawa berobat dalam kondisi penyakit yang sudah berat dan mengganggu hingga dibutuhkan pengobatan lebih lama. "Penderita TBC bisa disembuhkan setelah berobat rutin enam bulan hingga satu tahun. Hanya sedikit sekali kasus tersebut yang berakibat kematian," katanya. Untuk HIV/AIDS penderitanya makin meningkat dari waktu ke waktu akibat narkoba melalui penggunaan jarum suntik bergantian, seks bebas, menjamurnya lokalisasi serta penularan dari ibu ke bayi. "Kasus kematian akibat HIV/AIDS setiap tahun ditemui di Kota Bekasi termasuk balita (bayi di bawah lima tahun) yang tertular melalui orang tuanya," katanya. (T.M027/B/A035/C/A035) 03-06-2010 10:28:51 NNNN

BERITA LAINNYA
  • SANGATTA – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyatakan sejumlah karyawan perusahaan yang berada di daerah ini rentan…
  • Akselerasi  pencapaian sasaran  secara sungguh-sungguh harus dilakukan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Silahkan mendownload Laporan Bulan September…