Ibu Pengidap HIV Dilarang Menyusui Anak
Rabu, 1 September 2010
Antara, 1 September 2010
Kupang, 1/9 (ANTARA) – Enam perempuan mengidap HIV yang melahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur belum lama ini, dilarang menyusui bayi mereka, karena anak bisa terinfeksi virus yang diidap ibunya.
Informasi yang diperoleh dari Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Nusa Tenggara Timur (NTT) Gusti Brewon di Kupang, Rabu menyebutkan, pihak rumah sakit terus memantau perkembangan anak dan baru bisa mengetahui, apakah anak-anak itu terinfeksi virus atau tidak pada usia 18 bulan.
Mereka, kata dia, umumnya berasal dari keluarga miskin yang berdomisili di Kota dan Kabupaten Kupang. Mereka diidentifikasi mengidap virus HIV dan melahirkan anak, namun karena alasan perlindungan, identitas mereka dirahasiakan.
Pihaknya menggalang dana melalui situs jejaring sosial facebook dan telah menghimpun jutaan rupiah, yang dimanfaatkan untuk membeli susu bagi kebutuhan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus HIV.
Wakil Gubernur NTT Esthon L Foenay dalam sebuah paparan belum lama ini menyampaikan kekhawatirannya mengenai jumlah pengisap HIV/AiDS yang meningkat tajam sejak muncul pertama pada 1997. Sampai dengan semester pertama 2010, jumlah pengidap mencapai 1.129 orang.
Dia mengatakan, jumlah pengidap itu, memperlihatkan adanya tren peningkatan, bahkan telah dijumpai pada kelompok berisiko rendah, seperti ibu rumah tangga dan anak-anak. KPAD NTT merilis data, jumlah pengidap di kalangan ibu rumah tangga mencapai 234 kasus, petani 157 kasus, pegawai swasta 130 kasus, tenaga kerja Indonesia (TKI) 100 kasus, dan pelacur 98 kasus.
HIV/AIDS, katanya, juga mulai menjalar ke pengangguran mencapai 66 kasus, pegawai negeri sipil (PNS) 58 kasus, sopir 52 kasus, `tukang` ojek 35 kasus, mahasiswa 24 kasus, pelajar 22 kasus, oknum anggota TNI/Polri 21 kasus, pelaut 10 kasus dan profesi lain 36 kasus.
Dilihat dari kasus menurut kabupaten/kota, semua daerah sudah ada kasus kecuali Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Rote Ndao dan Sabu Raijua.
Hanya, katanya, kasus HIV/AIDS di lima kabupaten itu bukan tidak ada, namun belum terpantau. Sementara 16 kabupaten/kota sudah melaporkan kasus dengan jumlah tertinggi di Kabupaten Belu sebanyak 269 kasus HIV dan 82 kasus HIV.
Urutan kedua kasus terbanyak terjadi di Kota Kupang yakni 156 HIV 70 AIDS, Sikka 64 HIV, 111 AIDS, Manggarai 37 HIV, 16 AIDS, Lembata 18 HIV, 34 AIDS, Flores Timur 21 HIV 26 AIDS, Timor Tengah Utara 25 HIV, 19 AIDS, Timor Tengah Selatan tujuh HIV, 31 AIDS, Ende empat HIV, 26 AIDS, Ngada 11 HIV, 18 AIDS, Alor enam HIV, 20 AIDS, Kabupaten Kupang 11 HIV, tujuh AIDS Nagekeo sembilan HIV, tujuh AIDS, Sumba Timur masing-masing enam kasus, Manggarai Barat empat HIV enam AIDS dan Sumba Barat dua AIDS.
Ditilik dari data tersebut, katanya, sebagian besar daerah banyak temuan kasus sudah pada tingkat AIDS.
Dia meminta berbagai pihak yang menaruh kepedulian pada penanggulangan HIV/AIDS untuk mengaji peningkatan kasus yang luar biasa ini, melakukan kampanye dan sosialisasi lebih gencar, dengan memanfaatkan jaringan komunitas populasi kunci yang sudah ada.
Komunikasi populasi kunci itu adalah kelompok dukungan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI), Bunga Karang Peduli AIDS, organisasi pekerja seks, Aliansi Remaja Independen (ARI), Forum Anak Peduli HIV/AIDS dan penyakit menular seksual, forum komunikasi waria NTT, Gerakan Muda Peduli HIV/AIDS, Komunitas Populasi Kunci Perempuan Kota Kupang dan komunitas `gay`. (T.K006/B/H-KWR/H-KWR) 01-09-2010 23:44:08 NNNN
Entri ini dikirim pada hari Rabu, 1 September 2010 pukul 15:53 dan di arsipkan di bawah Klipping HIV & AIDS. Anda dapat mengikuti tanggapan terhadap entri ini melalui umpan RSS 2.0. Baik komentar maupun ping saat ini ditutup.

