Berperang Melawan HIV/AIDS


Jumat, 3 September 2010

Kompas, 3 September 2010

MuDAers, banyak orang berpikir pelajar Kota Jakarta cuma bisa hura-hura atau bikin rusuh. Anggapan itu tak bisa ditampik begitu saja karena faktanya memang ada pelajar yang seperti itu. Tapi yang jelas, enggak semua pelajar Jakarta seperti itu lho.

Kami, pelajar dari SMKN 2 Jakarta, tak mau cuma hura-hura, atau bikin rusuh. Kami memanfaatkan energi masa muda kami untuk ikut serta memerangi virus mematikan HIV/AIDS. Hmm, mau tahu apa saja yang kami lakukan?

Awalnya, kami mengikuti pelatihan yang diadakan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), PT Unilever, dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari pelatihan itu kami mendapat pelajaran bagaimana cara menyampaikan informasi seputar HIV/AIDS kepada masyarakat, khususnya pelajar. Mulai body language (bahasa tubuh), cara bicara, menanggapi respons pendengar, sampai mengatasi grogi saat bicara di depan umum.

Setelah mendapat pelatihan itu, kami mengambil langkah aktif dalam program penyuluhan HIV/AIDS. Kami tahu ini hal yang berat, tapi ini menjadi tantangan yang menarik untuk dijalani.

Tanggapan positif
Untuk menjalankan program ini, kami mendatangi sekolah-sekolah di Jakarta.

Kami dan para pelajar dari sekolah lain yang juga turut dalam pelatihan dikenal sebagai Duta Jakarta Stop AIDS.

Namun, sebelum menyuluh di luar sekolah, kami menyuluh di dalam sekolah dulu. Ternyata tanggapan teman-teman sekolah kami positif.

Banyak di antara mereka ingin bergabung. Sebagai gambaran, saat awal memulai kerja ini jumlah kami hanya empat orang, tapi kini mencapai 38 orang.

Dengan bantuan guru, kami lalu mendirikan ekstrakurikuler yang diberi nama ”Zona Abu-Abu” (ZAA). Calon anggota baru harus memenuhi syarat anti-narkotik, anti-minuman keras, anti-rokok, dan mempunyai dasar pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Setelah penyuluhan di dalam sekolah kami rasa cukup, kami mencari sekolah lain sebagai sasaran, yaitu sekolah tingkat pertama (SMP) dan SMA/SMK sederajat.

Mengapa? Karena sesuai data BNN, penderita AIDS didominasi remaja usia 20-29 tahun. Dengan masa inkubasi virus HIV antara 5-10 tahun, kemungkinan besar mereka tertular virus itu pada usia 13-19 tahun. Usia tersebut adalah usia sekolah.

Penyuluhan yang kami lakukan tak hanya di sekolah di Jakarta, tapi juga sampai ke Depok. Kami biasanya menggunakan beberapa cara, seperti dengan media poster, secara lisan, dan menggunakan layar LCD.

Kami juga melakukan beberapa permainan yang berhubungan dengan materi yang diberikan. Ini kami lakukan jika responden terlihat jenuh.

Terkadang jika kami mendapat tambahan dana, kami memberi hadiah walau hanya makanan ringan atau alat tulis kepada responden yang dapat menjawab pertanyaan. Biasanya kami lakukan ini ketika menyuluh di SMP.

Kami juga memberi kuisioner agar mereka mengingat dengan mendalam materi yang diberikan.

Materi penyuluhan
Oh ya, pada awalnya materi yang kami berikan hanya seputar HIV-AIDS. Namun, seiring berjalannya waktu, sering kami perlebar dengan materi narkotik. Baru-baru ini kami juga memulai dengan kesehatan reproduksi remaja.

Pertama, kami sangat menekankan kepada para pelajar bahwa HIV berbeda dengan AIDS. HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah penyakitnya.

Kami juga menambah informasi dengan fakta yang terjadi di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar mereka sadar akan bahaya dan akibat yang bisa terjadi kelak.

Di antaranya fakta tentang jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Berdasar data BNN, dari 3,2 juta pengidap HIV/AIDS di Indonesia (sampai Desember 2008), 80 persen di antaranya remaja usia 12-24 tahun.

Di antara mereka juga banyak yang belum mengerti bagaimana virus ini menular. Oleh karena itu, kami juga memberikan informasi bagaimana penularan virus HIV/AIDS terjadi.

Antara lain:

  • Penggunaan jarum suntik secara bergantian
  • Melalui hubungan seks berisiko HIV
  • Transfusi darah
  • Ibu menyusui

Dengan fakta itu diharapkan mereka mengerti dan memahami bahaya virus ini.
TIM SMKN 2 Jakarta: Edwin Kurnia, Agung Mahendra, Ismi, Eka, Titin Purwita S, Wahyu Ningsih F, Mega Restu M, Jefry Hidayat, Aditya Safari, dan Hammid M R


Entri ini dikirim pada hari Jumat, 3 September 2010 pukul 17:24 dan di arsipkan di bawah Klipping HIV & AIDS. Anda dapat mengikuti tanggapan terhadap entri ini melalui umpan RSS 2.0. Baik komentar maupun ping saat ini ditutup.

Komentar ditutup.

Navigasi Utama