Banyak Pelacur Mengidap HIV/AIDS
Kamis, 26 Agustus 2010
Jawa Pos, 26 Agustus 2010
DENPASAR – Peringatan bagi pria yang suka ”jajan” pelacur. Angka penderita HIV/AIDS di Bali, terutama dari kalangan pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur ternyata cukup tinggi.
Dari data yang diperoleh di RS Sanglah, sepanjang bulan Juli ini tercatat sebanyak 110 pasien yang diduga mengidap penyakit mematikan itu datang untuk melakukan konseling. Untungnya, di antara 110 pasien tersebut, setelah dilakukan tes laboratorium, terbukti hanya 17 pasien yang positif HIV/AIDS.
Dari 17 pasien positif HIV/AIDS tersebut, 11 pasien berjenis kelamin laki-laki, dan 6 pasien berjenis kelamin perempuan. Para PSK ternyata cukup mendominasi pasien positif HIV/AIDS. ”Sembilan orang di antara mereka adalah PSK,” kata Ketua Seksi Pelayanan Medik Rawat Khusus dr. Miswarihati, saat ditemui di ruangannya belum lama ini.
Lainnya, yakni empat orang tercatat sebagai pasangan suami istri, tiga orang merupakan pasangan heteroseksual, atau pasangan berlainan jenis yang berhubungan badan tanpa ikatan nikah. Sementara, satu orang lagi merupakan ibu hamil. Diketahui, dia melakukan konseling dengan tujuan anak yang dikandungnya tidak ikut tertular. ”Bisa saja, yakni melalui proses kelahiran secara cesar,” jelas dr. Miswarihati.
Nah, dari 17 pengidap HIV/AIDS tersebut, lima orang sudah meninggal. Berarti ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan lalu. Juni lalu, sebanyak empat pengidap HIV/AIDS meninggal di RS Sanglah. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa tidak terlalu mengherankan jika banyak PSK yang tertular HIV/AIDS. Pasalnya, mereka masih memiliki pengetahuan yang sangat rendah tentang penyakit yang belum ada obatnya ini.
“Maka dari itu, tujuan konseling yang kita lakukan adalah mengubah perilaku mereka yang rawan melakukan resiko penularan menjadi perilaku yang aman,” papar dr. Miswarihati.
Selama ini, banyak PSK yang membiarkan para lelaki hidung belang yang menjadi tamunya melakukan hubungan tanpa menggunakan alat pengaman atau kondom. “Sering juga tamunya yang memaksa tidak menggunakan alat pengaman,” imbuhnya.
Untuk itu, perlu diberlakukan peraturan yang ketat oleh pengelola tempat prostitusi. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa setuju saja bila pemerintah menyediakan sebuah tempat prostitusi yang legal. ”Kita jadi lebih mudah memantau,” tukasnya.
Lebih mengejutkan lagi, dari beberapa pasien remaja yang melakukan konseling, ternyata banyak di antara mereka yang mengaku sudah melakukan hubungan seksual sejak usia belia, yakni di bangku SMP maupun SMA. Akibat hubungan tak terkontrol itu, sudah ada yang positif tertular. ”Meski hubungan cuma sekali dan sudah lama terjadi tetap saja risiko penularan tinggi,” lanjut dr. Miswarihati.
Untuk itu, ia menuturkan bahwa sangat penting pendidikan seks bagi para anak-anak yang baru menginjak usia pubertas. Sejak 2004 hingga sekarang, tercatat sebanyak 738 pasien pengidap HIV/AIDS rutin melakukan kontrol ke RS Sanglah.
Mereka diberikan obat retroviral yang jamak digunakan. ”Meski tidak dapat membunuh virus, paling tidak mereka masih dapat beraktivitas seperti biasa,” pungkas dokter murah senyum tersebut. (aim)
Entri ini dikirim pada hari Kamis, 26 Agustus 2010 pukul 16:47 dan di arsipkan di bawah Klipping HIV & AIDS. Anda dapat mengikuti tanggapan terhadap entri ini melalui umpan RSS 2.0. Baik komentar maupun ping saat ini ditutup.

